Jakarta, 9 September 2026 — Di balik peluncuran Indonesia Endowment Ecosystem (IEE) di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (9/9), terdapat kisah tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tengah menata masa depan mereka dengan dua hal yang berjalan beriringan: pendidikan dan Al-Qur’an. Mereka adalah Radja Fahlevy S. Nugraha, Muhammad Faris Izzudin, dan Raden Abdul Jabar Arrasyid, tiga penerima Beasiswa Tahfidz Rumah Wakaf yang hadir dalam momentum peluncuran IEE. Ketiganya menempuh bidang studi yang berbeda, memiliki perjalanan masing-masing, serta membawa cita-cita yang berangkat dari satu keinginan yang sama: menjadikan ilmu yang mereka pelajari kelak memberi manfaat bagi orang lain.

Bagi Radja Fahlevy S. Nugraha, perjalanan pendidikan menjadi bagian dari perjuangan keluarga. Mahasiswa Biologi ITB yang telah menghafal 3 juz Al-Qur’an ini kehilangan sang ayah sejak kelas 2 SMP dan kini melanjutkan pendidikan dengan dukungan sang ibu sebagai orang tua tunggal, serta dua kakaknya yang telah bekerja. Di tengah perjalanan tersebut, Radja terus mengembangkan ketertarikannya pada bidang biokimia. Ia kini tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti program exchange ke Hiroshima, Jepang. Ke depan, Radja bercita-cita menjadi seorang ilmuwan yang dapat menghasilkan penelitian yang bermanfaat bagi umat Islam dan kemanusiaan. Salah satu gagasan yang ingin dikembangkannya adalah penelitian mengenai molekul yang dapat membantu penanganan depresi, terutama melihat persoalan kesehatan mental yang semakin banyak dihadapi generasi muda.

Jika Radja menempatkan sains sebagai jalan pengabdian, Raden Abdul Jabar Arrasyid melihat bidang kesehatan sebagai ruang untuk memberikan manfaat. Mahasiswa Rekayasa Pertanian ITB yang telah menghafal 7 juz ini aktif dalam berbagai kegiatan di lingkungan kampus maupun di luar kampus. Ia juga kerap dipercaya menjadi imam shalat Maghrib dan Isya di masjid. Ketertarikannya pada bioteknologi turut membentuk cita-citanya. Raden ingin berkiprah di bidang kesehatan dengan harapan pengobatan dapat diakses secara lebih luas dan terjangkau. Pengetahuan yang ia pelajari ingin dikembangkan menjadi solusi yang dapat membantu lebih banyak orang di masa mendatang.

Sementara itu, Muhammad Faris Izzudin menempuh jalur yang berbeda. Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) ITB ini telah menghafal 8 juz Al-Qur’an. Ketertarikannya pada dunia visual membuat Faris melihat bahwa sebuah karya bukan sekadar persoalan keindahan, tetapi juga tentang pesan dan nilai yang dibawa. Ke depan, Faris ingin membangun identitas visual yang kuat dan dapat diterima secara global. Melalui karya-karyanya, ia ingin membawa nilai-nilai baik sekaligus menyampaikan pesan positif melalui seni dan desain.

Tiga mahasiswa tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dan Al-Qur’an dapat tumbuh beriringan dengan cita-cita yang beragam. Ada yang ingin meneliti, mengembangkan solusi kesehatan, dan berkarya melalui desain. Namun, ketiganya sama-sama membawa harapan bahwa ilmu yang mereka peroleh hari ini kelak dapat menjadi jalan untuk memberi manfaat yang lebih luas. Kehadiran mereka dalam peluncuran Indonesia Endowment Ecosystem juga menjadi gambaran tentang bagaimana dana abadi berbasis wakaf dapat diarahkan untuk mendukung pendidikan dan membuka kesempatan bagi generasi muda untuk terus bertumbuh. Melalui dukungan tersebut, perjalanan pendidikan mereka diharapkan bukan berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi dapat berlanjut menjadi kontribusi bagi masyarakat dan generasi berikutnya.